Jika kalian ingin tahu soal bisnis lokal, silahkan baca literatur yang lain karena saya tidak akan bicara soal bisnis lokal secara terperinci, apalagi membuat langkah-langkah berbisnis agar sukses. Itu pertama, kedua, tentang pergerakan, saya juga tidak bicara soal bagaimana kita harus bergerak secara konsisten dan nomaden diberbagai temoat yang populer, karena ada makna yang harus dikejar di tempat lain, dan tentu nya harus melalu pergerakan!
Apa hubungan kisah cinta antara si Bisnis Lokal dan Pergerakan? Mari saya ulas ringan-ringan agar kau tidak perlu mengeluarkan keringat banyak di kepalamu.
Pertama, soal kepedulian. Kepedulian itu di ambil bukan melekat pada diri manusia, tapi kepedulian itu diasah dengan beberapa level, dari mulai hanya peduli secara perasaan, peduli secara lisan, dan peduli secara tindakan. Dan kepedulian secara tindakan ini pun terbagi menjadi dua, yaitu kepedulian secara tindakan yang singkat, dan kepedulian secara tindakan yang bekerpanjangan.
Setuap manusia berhak untuk tidak peduli dengan apapun, dan siapapun, tapi manusia sering diperlihatkan langsung oleh kondisi dimana ia mengharuskannya untuk peduli, entah peduli jenis apapun. Maka jika suatu masa ada kondisi dimana manusia saling peduli maka mereka telah mengambil kepedulian untuk oranglain secara berkepanjangan, kemudian itu di sebut sebagai pergerakan, apapun motiv dan kepentingannya. Lalu apa hubungan romantis antara pergerakan dan bisnis lokal?
Saya terankan dulu soal bisnis lokal yang saya maksudkan. Soal bisnis yang menopang suatu kehidupan, itu banyak macam ragamnya, dari mulai bisnis penghisapan tenaga, bisnis perusakan alam, bisnis psikologi dan tentunya dilegalkan dan melalui barang transaksi bernama Uang. Ketika seseorang atau kelompok memutuskan untuk berbisnis maka ia mesti terima berbagai macam konsekuensi, dari setiap kesetujuan orang lain terhadapnya atau sebaliknya. Sah sah saja ketika seseorang berbisnis untuk kehidupannya sendiri, dan harus memang begitu karena kalau hanya menjadi pekerja mungkin dia punya perasaan telah dihisap oleh bosnya, kita ambil contoh saja di restoran dengan jam kerja 12jam dan gaji yang tidak seberapa. Para pekerja bangun setiap pagi dan mulai bekerja sebelum restoran buka sampai akhir restoran tutup di larut malam, dan esok hari nya begitu lagi sampai kiamat tiba maka, hanya ada satu hal yang ia bisa lakukan, yaitu adalah membantung topi koki nya kepada pemilik restoran dan mengucapkan kalimat umpatan. Namun seringkali hal itu tidak terjadi karena pertimbangan tidak makan esok hari dan perut anaknya dirumah. Tapi apakah kalian pernah berpikir untuk membuat restoran sendiri dengan skala kecil? Dan tentunya kalian sudah baca buku dari Leila S Chudori yang berjudul Pulang. Maksudku adalah jika pegawai 4 orang dengan gaji yang dikumpulkan dalam beberapa bulan mungkin kalian dapat membuat kedai kedai kecil, dengan kalian sebagai bos sekaligus pegawai nya. Itu lebih adil dan masuk akal ketimbang hanya menjadi pegawai restoran sampai gunung api meletus diseluruh dunia.
Apakah kalian belum menemukan hubungan romantis antara Bisnis Lokal dan Pergerakan?
Okay, Saya uraikan.
Dalam satu kondisi beberapa orang atau kelompok yang tergabung dalam gerakan untuk mencapai cita-cita hidup tanpa penindasan dengan kehidupan yang manis tentu ada beberapa dari mereka yang kosong perut nya, yang lapar perutnya, yang membutuhkan sebatang sigaret tentunya, air mineral, mantel musim dingin, dan roti, dan susu, dan sepatu ketika ia bergerak dari segala jalan jalan yang gelap. Tapi bagaimana mungkin mereka mendapatkan barang barang tersebut? sedangkan dalam hati mereka berkata bahwa saya tidak cukup uang untuk membeli itu, tidak cukup tenaga untun kerja kerja sebuah organisasi yang lentur, tidak cukup tenaga untuk berpikir, dan terlebih tidak cukup uang untuk membeli buku guna suntikan dari literasi mereka. Apakah ada suatu alternative yang dapat di tempuh untuk mengatasi hal ini?
Jawabanya kalian dapat merumuskan sendiri, karena saya tidak mungkin memberikan ikan tanpa alat pancingan. Karena ikan seketika akan habis, namun alat produksi, haruslah di produksi, bukan oleh pabrik alat pancing tentunya. Tapi oleh pikiran kalian sendiri.
Bandung 2 Nov 2020
Bicara soal ikan saya ingat ikan pertama saya yang mati karena habis oxigen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar